Jumat, 17 Maret 2023

SEJARAH AL-QUR’AN DAN PENULISAN HADITS PADA MASA RASULULLAH SAW

Sejarah Al-Qur'an Pada Masa Rasulullah SAW

Pada Masa Rasulullah SAW

Karena keterbatasannya tidak dapat membaca dan menulis. Setiap kali Rasulullah SAW menerima wahyu, ia segera menyampaikannya kepada para sahabatnya. Sahabat yang ditunjuk untuk menuliskan Al-Qur’an adalah Abu Bakar, Umar bin Khatab, Utsman bin Affan, Zaid bin Tsabit, Ali bin Abi Thalib, Muawiyah bin Abu Sufyan dan Ubay bin Kaab. Penulisan Al-Qur'an tercatat masih sederhana dan tersebar di berbagai media seperti pelepah kurma, lempengan batu, daun lontar, kulit atau kayu, pelana, potongan tulang belulang binatang. Selain itu, banyak para sahabat Rasulullah SAW yang langsung menghafal ayat-ayat Al-Qur'an setelah turunnya wahyu. Saat itu penulisan Al-Qur’an belum disusun dalam Mushaf karena belum ada faktor pendorong untuk mencatat Al-Qur’an karena Rasulullah SAW masih hidup dan para sahabat juga menghafalnya. Alasan lain karena Al-Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur.

Pada Masa Abu Bakar Ash-shidiq

            Pada masa ini banyak sahabat Hafidz yang syahid dalam Perang Yamama. Oleh karena itu, Umar bin Khattab mulai khawatir dan memikirkan masa depan Alquran. Kemudian ia berkonsultasi dengan Khalifah Abu Bakar untuk mengumpulkan Al-Qur’an kembali. Karena kekhawatiran itu, Abu Bakar dan Umar bin Khattab mulai mengumpulkan lembaran-lembaran ayat Al-Qur’an. Abu Bakar lalu meminta Zaid bin Thabit, salah seorang juru tulis Nabi Muhammad SAW terdahulu, untuk menuliskan Al-Qur'an agar menjadi lembaran-lembaran yang bisa disatukan. Ketika Al-Qur’an menjadi mushaf yang tertata rapi, mushaf tersebut diberikan kepada Abu Bakar dan menyimpannya hingga wafatnya. Kemudian Umar bin Khattab menjadi penerus pemegang mushaf hingga wafatnya. Sepeninggal beliau naskah tersebut dilanjutkan oleh putrinya Hafshah binti Umar bin Khattab yang juga merupakan salah satu istri Nabi Muhammad SAW. 

Pada Masa Utsman bin Affan

            Agama Islam semakin berkembang, mengakibatkan perbedaan pelafalan banyak kata dalam Al-Qur’an. Maka Utsman bin Affan berinisiatif membuat Al-Qur’an standar atau yang biasa kita sebut Mushaf Utsmani. Dalam hal ini Utsman bin Affan membentuk panitia yang terdiri dari Zaid bin Tsabit (ketua), Abdullah bin Zubair, Sa’id bin Ash dan Abdur Rahman bin Harits bin Hissyam. Tujuannya untuk membukukan Al-Qur’an, yaitu dengan menyalin lembaran-lembaran yang berisi ayat-ayat Al-Qur’an menjadi sebuah buku. Ia juga menyatukan tulisan dan bacaan dalam dialek suku Quraisy, karena konon Al-Qur’an diturunkan dalam dialek suku tersebut. Utsman berusaha mengirim utusan kepada Hafsah binti Umar untuk meminta dokumen tentang ayat-ayat Al-Qur’an. Dalam negosiasi, Hafsah mengizinkannya dengan syarat Utsman mengembalikan dokumen asli setelah ayat-ayat disalin. Utsman pun setuju. Setelah rapi dan dalam bentuk buku, mushaf tersebut disebarluaskan ke berbagai negara seperti Mekkah, Syiria, Yaman, Bahrain, Basra, Kufah dan Madinah serta negara-negara muslim lainnya. Utsman memenuhi janjinya untuk mengembalikan dokumen asli kepada Hafsah.

Dengan adanya kisah ini, kita menjadi lebih mengetahui asal-usul dan proses terbentuknya Al-Qur’an karena isinya merupakan pedoman bagi manusia. Yuk, rajin membaca Al-Qur’an!

Sejarah Penulisan Hadits Pada Masa Rasulullah SAW

Ketika Nabi Muhammad SAW masih hidup, Hadits tidak mendapat tingkat layanan dan perhatian yang sama dengan Al-Qur’an. Para sahabat, terutama yang memiliki tugas istimewa, selalu mencurahkan tenaga dan waktunya untuk mengabadikan ayat-ayat Al-Qur'an.

Tidak demikian halnya dengan hadits. Namun, para sahabat sangat membutuhkan petunjuk dan bimbingan Nabi Muhammad SAW untuk menafsirkan dan melaksanakan perintah Al-Qur'an.

Larangan Menulis Hadits

Para sahabat meriwayatkan sebagian Hadits Nabi Muhammad SAW melalui lisan dan pendengaran.

Pendirian ini mempunyai pegangan yang kuat, yaitu sabda Nabi Muhammad SAW “Jangan kamu tulis sesuatu yang telah kamu terima dariku selain al-Qur’an. Barang siapa menulis dariku selain al-Qur’an hendaklah ia hapus. Ceritakan saja yang kamu terima dariku, tidak mengapa. Barang siapa yang sengaja berdusta atas namaku, maka hendaklah ia menduduki tempat duduknya di neraka.” (HR Muslim)

Dalam riwayat lain Sa’id al-Khudri mengatakan: “Kami pernah meminta izin kepada Nabi Muhammad SAW untuk menulis tetapi beliau tidak mengizinkannya.” (al-Muhadits al-Fashil: 4/5)

Hadits di atas, selain menganjurkan agar meriwayatkan hadits dengan lisan, juga merupakan larangan keras kepada orang yang membuat riwayat palsu.

Larangan penulisan hadits adalah untuk menghindari kemungkinan sebagian sahabat penulis wahyu akan mencantumkan hadits ke dalam lembaran-lembaran tertulis Al-Qur’an karena mereka menganggap segala sesuatu yang dikatakan Nabi Muhammad SAW sebagai wahyu.

Perintah Menulis Hadits

Selain melarang penulisan hadits, Nabi Muhammad SAW juga memerintahkan beberapa sahabat tertentu untuk menulis hadits.

Misalnya, sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra menerangkan bahwa sesaat ketika kota Mekah telah dikuasai kembali oleh Nabi Muhammad SAW beliau berdiri dan berpidato di hadapan para manusia. Pada waktu beliau berpidato, tiba-tiba seorang pria yang berasal dari Yaman yang bernama Abu Syah berdiri dan bertanya kepada Nabi Muhammad SAW., dia berkata, “Ya Rasulullah! Tulislah untukku!” Jawab Rasul, “Tulislah oleh kamu sekalian untuknya!”

Tidak ada riwayat yang lebih sahih tentang perintah menulis hadits selain hadits ini. Karena Nabi Muhammad SAW memerintahkannya dengan tegas.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Nasakh Mansukh dan Unsur-unsur Hadits

Nasakh Mansukh Nasakh Mansukh a.        Pengertian Nasakh Mansukh             Nasikh merupakan isim fa’il (kata benda yang berkedudukan ...