Kamis, 11 Mei 2023

Nasakh Mansukh dan Unsur-unsur Hadits

Nasakh Mansukh


Nasakh Mansukh

a.       Pengertian Nasakh Mansukh

            Nasikh merupakan isim fa’il (kata benda yang berkedudukan sebagai pelaku) dari fi’il madzi (kata kerja lampau) nasakha yang bermakna yang ‘menghapus’. Mansukh merupakan isim maful (kata benda yang dikenai pekerjaan), dari fi’il madzi yang sama nasakha, yang bermakna yang ‘dihapus’. Sedangkan bentuk masdar-nya yakni naskh yang bermakna ‘pembatalan’.

            Secara istilah, Nasakh Mansukh adalah:

رفع الشارع حكماً شرعياً بدليل شرعي متأخر

“Dicabutnya suatu hukum syar’i oleh Allah dengan menggunakan dalil syar’i yang datangnya belakangan.”

b.      Syarat-syarat Nasakh

            Dalam menetapkan nasakh dan mansukh ada syarat-syarat yang harus dipenuhi, yaitu:

·         Hukum yang mansukh adalah hukum syara’.

·         Dalil yang menaskh adalah adalah dalil syara’.

·         Dalil yang menaskh adalah yang datang lebih kemudian dari dalil yang hukumnya di-mansukh.

·         Dua dalil tersebut saling bertolak belakang atau ta’arud dan tidak dapat dikompromikan satu sama lain

c.       Pembagian Nasakh Mansukh

            Nasakh diklasifikasikan menjadi empat jika dilihat dari segi nasakh antara Qur’an dengan Sunnah, yaitu

·         al-Qur’an dengan al-Qur’an

·         al-Qur’an dengan as-Sunnah (al-Qur’an dengan Sunnah ahad, dan al-Qur’an dengan Sunnah Mutawatiroh)

·         as-Sunnah dengan al-Qur’an

·         as-Sunnah dengan as-Sunnah.

d.      Hikmah Nasakh Mansukh

            Menurut ulama terdapat berbagai macam hikmah dalam nasakh, diantaranya adalah:

·         Menegaskan kekuasaan Allah Subhanahu Wata’ala dengan menentukan dan menetapkan syariat serta hukum-hukumnya sesuai kehendaknya yangberlaku untuk seluruh makhluknya.

·         Memberikan kemudahan dan kemaslahatan umat dalam mentaati syariat islam yang juga memberikan bukti bahwa Allah maha pengasih lagi maha penyayang.

·         Sebagai ujian bagi para muallaf dan menjadi sebuah berkah dan kemudahan bagi umat lainya jika nasakh memberikan ketetapan yang memudahkan.

·         Menyempurnakan syariat agama dan hukum tasyri’ yang dapat menyesuaikan keadaan umat setiap periodenya.

 

Unsur-unsur Hadits

a.       Unsur-unsur hadits

·         Sanad

            Sanad menurut bahasa berarti sandaran, tempat kita bersandar. Sanad secara bahasa dapat diartikan al-mu`tamad "المعتمد", yaitu yang di pegangi (yang kuat) atau yang bisa di jadikan pegangan. Menurut istilah ahli hadits sanad adalah jalan yang menyampaikan kepada matan hadits. Secara terminologis, definisi sanad adalah:

هو طريق المتن، اي سلسلة الرواة الذين نقلوا المتن من مصدره الاولى

“Sanad adalah jalannya matan, yaitu silsilah para perawi yang memindahkan (meriwayatkan) matan dari sumbernya yang pertama”

            Ada beberapa istilah yang hubungannya sangat erat dengan sanad, yaitu: isnad, musnad dan musnid.

·         Matan

            Dalam segi bahasa memiliki arti ما صلب وارتفاع من الأرض yang artinya tanah yang meninggi. Maksudnya ialah sebuah pesan yang di tinggikan. Lalu pengertian matan secara istilah yaitu materi dan lafadz yang ada di hadist. Ada juga yang mengartikan sebagai ujung atau tujuan dari sanad.

            Seperti yang dikatakan Ath-thibi الفظ الحديث التي تتقوم ها معنية yang artinya lafadz-lafadz hadits yang didalamnya terdapat makna-makna tertentu.

·         Rawi

            Rawi adalah seseorang yang mengutip hadis sekaligus dengan isnadnya, dia bisa laki-laki atau perempuan. Secara Bahasa rawi adalah orang yang meriwayatkan hadits atau memberitakan hadits.

الراوي من تلقي االحديث واده بصيغة من صيغ الاءداء

“Rawi adalah orang yang menerima hadits dan menyampaikannya dengan salah satu bahasa penyampaiannya”.

            Jadi rawi adalah orang yang menukil, memindahkan atau menuliskan hadits dengan sanadnya baik itu laki-laki atau perempuan. Atau orang yang telah menyampaikan atau menuliskan hadits dalam sebuah kitab.

b.      Syarat-syarat Seorang Perawi

·         ‘Adl dan Jarh, ‘adl

·         Memiliki Pengetahuan Bahasa Arab

·         Sanadnya harus Muttasil (bersambung)

·         Kuat hafalannya

·         Tidak bertentangan dengan perawi yang lebih baik dan lebih dapat dipercaya.

·         Tidak berillat

c.       Proses transformasi hadits, ada 8 macam yaitu:

·         As-sima’ min lafdzi syaikh

·         Al-Qira’ah ‘ala syaikh

·         Al-ijazah

·         Munawalah

·         Al-kitabah

·         Al-I’lam

·         Al-washiyah

·         Wijadah

 

 


Sabtu, 01 April 2023

Asbabun Nuzul ayat-ayat tarbawi (Pendidikan)

 


Pendidikan merupakan kegiatan sadar yang memiliki tujuan. Proses pendidikan dilakukan dengan   sadar dengan berdasarkan tujuan yang jelas. Dalam istilah bahasa Indonesia, kata pendidikan hampir   setara   dengan   pengajaran   yang   menunjukkan   proses transformasi baik ilmu maupun nilai. Pendidikan dimaknai sebagai upaya untuk menyampaikan informasi sekaligus menanamkan nilai-nilai dalam diri peserta didik sehingga setelah proses tersebut dilakukan diperoleh perubahan sikap positif yang diharapkan. Adapun dalam perspektif Al-Qur’an, tidak terdapat dualitas yang memisahkan pendidikan dengan pengajaran.  Hanya saja di dalam   Al-Qur’an   terdapat   beberapa   istilah   yang   digunakan   untuk menunjukkan terminologi pendidikan dan pengajaran, yaitu tarbiyah, ta’lim, ta’dib dan tazkiyah.

Asbabun Nuzul ayat-ayat tarbawi (Pendidikan) terbagi menjadi empat kelompok, yaitu:

  • Spirit pendidikan dalam perspektif Al-Qur’an, yaitu Surat al-Mujadalah (58); 11, Surat al-Zumar (39); 9, dan Surat al-Taubah (9); 122. 
  • Pendidik dalam Al-Qur’an, Surat Ali Imran (3); 79.
  • Peserta didik, Surat al-Hujurat (49); 1 dan al-Hujurat (49); 2.  
  • Materi pendidikan Surat al-Nahl (16); 1 dan al-Nur (24); 62.

Pertama, tentang spirit pendidikan dari sudut pandang Al-Qur’an, ayat-ayat Al-Qur’an yang menjelaskan tentang keutamaan ilmu.  Ilmu memiliki arti penting bagi umat Islam.  Orang yang berilmu tidaklah sama dengan orang-orang yang tidak berilmu. Dalam Surat al-Mujadalah (58); 11, secara tegas Allah menjelaskan bahwa orang-orang yang berilmu akan diangkat derajatnya melebihi  mereka  yang  tak  berilmu.  Ilmu di sini bersifat mutlak. Artinya tidak sebatas ilmu agama semata, akan tetapi dalam semua disiplin ilmu, baik yang  bernafaskan  agama  maupun ilmu-ilmu duniawi. Sedangkan Surat al-Zumar (39); 9, menjelaskan  tentang perbedaan orang yang berilmu dan yang tidak berilmu. Seseorang yang berilmu dan beramal dengan ilmunya tentu tidaklah sama  dengan mereka yang beramal tanpa ilmu. Mereka yang beramal dengan ilmu memiliki  nilai  lebih  bila  dibandingkan  dengan  mereka  yang  tidak berilmu. Untuk Surat   al-Taubah  (9); 122, berbicara   tentang pentingnya  menuntut  ilmu  meski  dalam  keadaan  genting.  Ayat ini secara tegas menerangkan bahwa tidak selayaknya semua umat Islam pergi ke medan  perang.  Satu kondisi  rawan  yang  menuntut umat Islam untuk turun ke medan jihad.

Kedua, tentang pendidik dari sudut pandang al-Qur’an, Surat Ali Imran (3); 79 menyatakan  bahwa  tidak  pantas  bagi  seorang  yang telah  dikarunia  al-kitab dan  al-hikmah  berkata  kepada  manusia  yang lain, “Hendaklah kalian menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah.”,  namun  hendaknya  mereka  mengatakan, “Hendaklah  kalian menjadi  orang-orang  rabbani  disebabkan  kalian  selalu  mengajarkan  al-kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.” Seharusnyanya   seorang   pendidik   tetap   berpegang   pada   nilai-nilai agama   yang   membuat  dirinya   tunduk   patuh   pada perintah  Rab-nya.  Jangan  sampai  puncak  penguasaan  terhadap pengetahuan    menyebabkan    dirinya    lupa    daratan    dan    lebih menganggap   dirinya   sebagai   yang   lebih   dibanding   yang   lain.

Ketiga, tentang peserta didik dari sudut pandang Al-Qur’an, Surat al-Hujurat  (49);  1-2.  Pada ayat 1,  Allah  memerintahkan  kepada  orang-orang yang  beriman hendaknya  mereka  tidak  mendahului  Allah dan  rasul-Nya. Jangan mendahului urusan yang Allah dan Rasul-Nya belum melakukan hal tersebut. Pada ayat selanjutnya, Allah melarang orang-orang yang beriman meninggikan  suara  melebihi  suara  Rasulullah Saw. Hal  ini  sangat erat kaitannya  dengan  tata krama  dan  adat istiadat. Dua ayat di atas menuntut  adanya  kesadaran  bagi  peserta  didik  untuk  tetap  menjaga etika   dan   sopan   santun   kepada   pendidiknya.   Jangan   sampai kebebasan  berpikir  dan  berpendapat,  menjadikan  peserta  didik  lupa akan batasannya sebagai  seorang  murid.

Keempat, tentang materi pendidikan dari sudut pandang Al-Qur’an, Surat al-Nahl (16); 1, menyatakan  bahwa  ketetapan  Allah telah   pasti   datangnya. Jadi janganlah   mereka   meminta   untuk terburu-buru.  Allah Maha Suci lagi Maha Tinggi, jauh  dari  apa  yang mereka  persekutukan.  Ayat ini secara tidak langsung menunjukkan tentang adanya orang-orang yang   mempersekutukan   Allah   Swt   dengan sesembahan selain-Nya. Mereka mengira bahwa Allah Swt sama dengan tuhan-tuhan yang selama ini mereka sembah.  Kemudian Allah Swt menentang dengan firman-Nya, Maha Suci Allah dan Maha Tinggi, jauh dari apa yang mereka persekutukan.

ASBABUN NUZUL


Pengertian Asbabun Nuzul

Kata أَسباب “asbaab” adalah bentuk jamak dari kata سَبَبٌ “sabab”, artinya segala sesuatu yang menjadi sarana penyampaian atau transmisi kepada orang lain. Sedangkan dalam bahasa kita secara singkat bisa diartikan sebagai sebab.

Sedangkan kata نُزُول “nuzuul” merupakan bentuk Mashdar (kata benda bentuk kata kerja) dari kata kerja نزَلَ, “nazala”. Kata نُزُول adalah bentuk jamak dari نَزْل “nazlun”. yang dalam bahasa kita bisa diartikan sebagai turun.

Asbabun Nuzul secara harfiah berarti sebab diturunkannya ayat-ayat Al-Qur’an. Allah menurunkan Al-Qur’an secara bertahap selama kurang lebih 23 tahun. Al-Qur’an diturunkan untuk memperbaiki iman, ibadah, akhlak dan hubungan manusia yang menyimpang dari kebenaran. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa terjadinya penyimpangan dan kerusakan pada tatanan kehidupan manusia merupakan sebab diturunkannya Al-Qur’an. Definisi ini mengandung pengertian bahwa sebab munculnya ayat kadang berupa peristiwa dan kadang berupa pertanyaan. Sebuah ayat atau beberapa ayat datang untuk menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan peristiwa tertentu atau memberikan jawaban atas pertanyaan tertentu.

Proses turunnya Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW terdapat tiga tahap, yaitu:

  • Al-Qur'an diturunkan Allah ke Lauh al-Mahfuzh, tempat yang menjadi catatan segala ketetapan dan kepastian Allah.
  • Al-Quran diturunkan dari Lauh al-Mahfuzh ke Bait Al-Izzah (tempat yang ada di langit dunia).
  • Al-Qur'an diturunkan secara bertahap dari Bait Al-Izzah ke hati Nabi Muhammad SAW melalui malaikat Jibril sesuai kebutuhan. 

Macam-macam Asbabun nuzul

Sebab turunnya ayat bisa dilihat dari berbagai sudut pandang. Jika dilihat dari bentuknya, sebab asbabun nuzul dapat dibagi menjadi dua bentuk, yaitu berupa peristiwa dan berupa pertanyaan.

Dari segi jumlah sebab dan ayat yang turun, sebab al-nuzul dapat dibagi menjadi dua yaitu:

Ta’addud al-asbab wa al-nazil wahid (beberapa alasan yang hanya melatarbelakangi turunnya satu ayat atau wahyu). Ada kalanya wahyu turun untuk menanggapi beberapa peristiwa atau sebab, contohnya turunnya Q.S. Al-Ikhlas ayat 1-4. Surat tersebut diturunkan untuk menanggapi orang-orang musyrik Makkah sebelum Rasulullah SAW melakukan hijrah. Ayat tersebut juga diturunkan kepada kaum ahli kitab yang ditemui di Madinah setelah hijrahnya Rasulullah SAW.

  Ta’addud al-nazil wa al-sahab wahid (satu alasan yang mendasari turunnya beberapa ayat). Contohnya, Q. S. Ad-dukhan ayat 10, 15, dan 16, asbabun nuzul dari beberapa ayat tersebut terjadi ketika kaum Quraisy tidak menaati Rasulullah SAW. Ia berdoa agar mereka merasakan kelaparan seperti yang pernah terjadi pada zaman Nabi Yusuf. Pada akhirnya, kaum Quraisy menderita kekurangan hingga mereka makan tulang. Kaum tersebut pun mendatangi Rasulullah SAW untuk meminta pertolongan. Maka Rasulullah SAW berdoa agar diturunkan hujan. Hujan turun setelah Rasulullah SAW berdoa, tetapi kaum Quraisy kembali sesat dan durhaka. Kemudian, turunlah riwayat yang menyatakan bahwa siksaan akan turun ketika Perang Badar.

Manfaat Mengetahui Asbabun Nuzul

Pengetahuan tentang Asbabun nuzul bukan hanya suatu pengamatan sejarah yang melatarbelakangi turunnya ayat-ayat Al-Qur’an, tetapi tujuan yang paling penting adalah untuk memahami Al-Qur’an dan menerima petunjuk dari Al-Qur’an. Hal ini tentu tidak sejalan dengan pendapat sebagian orang yang mengatakan bahwa tidak ada gunanya mengetahui Asbabun nuzul karena tidak lebih dari sejarah masa lalu. Padahal mempelajari Asbabun nuzul memiliki beberapa manfaat, antara lain: 

  • Membantu untuk mengetahui rahasia dan tujuan Allah dibalik hukum yang ditentukan oleh Al-Qur’an.
  • Membantu membuat ayat-ayat Al-Qur'an lebih mudah dipahami dan terhindar dari kesulitan.
  • Menolak argumen bahwa ayat tersebut aslinya mengandung hashr (pembatasan).
  • Menghindari salah tafsir dari ayat yang muncul setelah ayat Mutakhashish.
  • Pengertian hukum/spesialisasi ayat menurut penyusunan umum. Ini bagi yang mengikuti kaidah khusus al-ibrah bi khusus, al-sabab laa bi umum al-lafdzi.   
  • Memperjelas kepada siapa ayat tersebut ditujukan untuk menghindari spekulasi.
  • Mempermudah hafalan Al-Qur’an dan menegaskan keberadaan wahyu dalam benak pendengar yang mengetahui sebab turunnya wahyu.

Jumat, 17 Maret 2023

LARANGAN MENULIS HADITS PADA ZAMAN RASULULLAH SAW

 

Hadits, sumber ajaran Islam kedua setelah Al-Qur’an, mengalami proses perkembangan. Penyebaran Hadits melibatkan beberapa tahap. Periode pertama adalah masa wahyu dan pembentukan hukum serta landasannya. Pada masa ini, Nabi Muhammad hidup di tengah-tengah masyarakat.

Ketika itu, Nabi Muhammad meminta para sahabatnya untuk menuliskan setiap wahyu yang turun. Pada saat yang sama, ia melarang penulisan hadits.

عن أبي سعيد الخدري أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال لا تكتبوا عني ومن كتب عني غير القرآن فليمحه

Diceritakan dari Abu Sa’id al-Khudri bahwa Rasulullah bersabda “Jangan kalian menulis (selain Al-Qur’an) dariku. Barang siapa yang menulis dariku selain Al-Qur’an hendaknya ia menghapusnya” (HR Muslim).

Di sini kita akan melihat ada dua argumentasi ulama tentang dilarangnya menulis hadits pada masa Rasulullah SAW, yaitu:

Pertama, menurut sebagian ulama pada mulanya ditetapkan larangan menulis hadits. Hal ini dikarenakan khawatir tercampurnya penulisan Al-Qur’an dan hadits. Hingga ketika jumlah umat Islam bertambah banyak serta umat islam telah mengetahui perbedaan di antara Al-Qur’an dan hadits, larangan menulis hadits pun digugurkan dan dihapuskan.

Kedua, menurut sebagian ulama, larangan penulisan hadits dalam kisah Abu Sa’id al-Khudri adalah larangan penulisan hadits pada halaman yang sama dengan Al-Quran. Al-Hafidz as-Sakhawi mengatakan: “Larangan penulisan hadits maksudnya larangan menulis hadits dan Al-Qur’an pada halaman yang sama, terkadang para sahabat menulis ayat-ayat Al-Qur’an secara bersamaan dengan menulis hadits. Kemudian Rasulullah SAW melarang karena takut tercampur antara tulisan Al-Qur’an dan Hadits”.

SEJARAH AL-QUR’AN DAN PENULISAN HADITS PADA MASA RASULULLAH SAW

Sejarah Al-Qur'an Pada Masa Rasulullah SAW

Pada Masa Rasulullah SAW

Karena keterbatasannya tidak dapat membaca dan menulis. Setiap kali Rasulullah SAW menerima wahyu, ia segera menyampaikannya kepada para sahabatnya. Sahabat yang ditunjuk untuk menuliskan Al-Qur’an adalah Abu Bakar, Umar bin Khatab, Utsman bin Affan, Zaid bin Tsabit, Ali bin Abi Thalib, Muawiyah bin Abu Sufyan dan Ubay bin Kaab. Penulisan Al-Qur'an tercatat masih sederhana dan tersebar di berbagai media seperti pelepah kurma, lempengan batu, daun lontar, kulit atau kayu, pelana, potongan tulang belulang binatang. Selain itu, banyak para sahabat Rasulullah SAW yang langsung menghafal ayat-ayat Al-Qur'an setelah turunnya wahyu. Saat itu penulisan Al-Qur’an belum disusun dalam Mushaf karena belum ada faktor pendorong untuk mencatat Al-Qur’an karena Rasulullah SAW masih hidup dan para sahabat juga menghafalnya. Alasan lain karena Al-Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur.

Pada Masa Abu Bakar Ash-shidiq

            Pada masa ini banyak sahabat Hafidz yang syahid dalam Perang Yamama. Oleh karena itu, Umar bin Khattab mulai khawatir dan memikirkan masa depan Alquran. Kemudian ia berkonsultasi dengan Khalifah Abu Bakar untuk mengumpulkan Al-Qur’an kembali. Karena kekhawatiran itu, Abu Bakar dan Umar bin Khattab mulai mengumpulkan lembaran-lembaran ayat Al-Qur’an. Abu Bakar lalu meminta Zaid bin Thabit, salah seorang juru tulis Nabi Muhammad SAW terdahulu, untuk menuliskan Al-Qur'an agar menjadi lembaran-lembaran yang bisa disatukan. Ketika Al-Qur’an menjadi mushaf yang tertata rapi, mushaf tersebut diberikan kepada Abu Bakar dan menyimpannya hingga wafatnya. Kemudian Umar bin Khattab menjadi penerus pemegang mushaf hingga wafatnya. Sepeninggal beliau naskah tersebut dilanjutkan oleh putrinya Hafshah binti Umar bin Khattab yang juga merupakan salah satu istri Nabi Muhammad SAW. 

Pada Masa Utsman bin Affan

            Agama Islam semakin berkembang, mengakibatkan perbedaan pelafalan banyak kata dalam Al-Qur’an. Maka Utsman bin Affan berinisiatif membuat Al-Qur’an standar atau yang biasa kita sebut Mushaf Utsmani. Dalam hal ini Utsman bin Affan membentuk panitia yang terdiri dari Zaid bin Tsabit (ketua), Abdullah bin Zubair, Sa’id bin Ash dan Abdur Rahman bin Harits bin Hissyam. Tujuannya untuk membukukan Al-Qur’an, yaitu dengan menyalin lembaran-lembaran yang berisi ayat-ayat Al-Qur’an menjadi sebuah buku. Ia juga menyatukan tulisan dan bacaan dalam dialek suku Quraisy, karena konon Al-Qur’an diturunkan dalam dialek suku tersebut. Utsman berusaha mengirim utusan kepada Hafsah binti Umar untuk meminta dokumen tentang ayat-ayat Al-Qur’an. Dalam negosiasi, Hafsah mengizinkannya dengan syarat Utsman mengembalikan dokumen asli setelah ayat-ayat disalin. Utsman pun setuju. Setelah rapi dan dalam bentuk buku, mushaf tersebut disebarluaskan ke berbagai negara seperti Mekkah, Syiria, Yaman, Bahrain, Basra, Kufah dan Madinah serta negara-negara muslim lainnya. Utsman memenuhi janjinya untuk mengembalikan dokumen asli kepada Hafsah.

Dengan adanya kisah ini, kita menjadi lebih mengetahui asal-usul dan proses terbentuknya Al-Qur’an karena isinya merupakan pedoman bagi manusia. Yuk, rajin membaca Al-Qur’an!

Sejarah Penulisan Hadits Pada Masa Rasulullah SAW

Ketika Nabi Muhammad SAW masih hidup, Hadits tidak mendapat tingkat layanan dan perhatian yang sama dengan Al-Qur’an. Para sahabat, terutama yang memiliki tugas istimewa, selalu mencurahkan tenaga dan waktunya untuk mengabadikan ayat-ayat Al-Qur'an.

Tidak demikian halnya dengan hadits. Namun, para sahabat sangat membutuhkan petunjuk dan bimbingan Nabi Muhammad SAW untuk menafsirkan dan melaksanakan perintah Al-Qur'an.

Larangan Menulis Hadits

Para sahabat meriwayatkan sebagian Hadits Nabi Muhammad SAW melalui lisan dan pendengaran.

Pendirian ini mempunyai pegangan yang kuat, yaitu sabda Nabi Muhammad SAW “Jangan kamu tulis sesuatu yang telah kamu terima dariku selain al-Qur’an. Barang siapa menulis dariku selain al-Qur’an hendaklah ia hapus. Ceritakan saja yang kamu terima dariku, tidak mengapa. Barang siapa yang sengaja berdusta atas namaku, maka hendaklah ia menduduki tempat duduknya di neraka.” (HR Muslim)

Dalam riwayat lain Sa’id al-Khudri mengatakan: “Kami pernah meminta izin kepada Nabi Muhammad SAW untuk menulis tetapi beliau tidak mengizinkannya.” (al-Muhadits al-Fashil: 4/5)

Hadits di atas, selain menganjurkan agar meriwayatkan hadits dengan lisan, juga merupakan larangan keras kepada orang yang membuat riwayat palsu.

Larangan penulisan hadits adalah untuk menghindari kemungkinan sebagian sahabat penulis wahyu akan mencantumkan hadits ke dalam lembaran-lembaran tertulis Al-Qur’an karena mereka menganggap segala sesuatu yang dikatakan Nabi Muhammad SAW sebagai wahyu.

Perintah Menulis Hadits

Selain melarang penulisan hadits, Nabi Muhammad SAW juga memerintahkan beberapa sahabat tertentu untuk menulis hadits.

Misalnya, sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra menerangkan bahwa sesaat ketika kota Mekah telah dikuasai kembali oleh Nabi Muhammad SAW beliau berdiri dan berpidato di hadapan para manusia. Pada waktu beliau berpidato, tiba-tiba seorang pria yang berasal dari Yaman yang bernama Abu Syah berdiri dan bertanya kepada Nabi Muhammad SAW., dia berkata, “Ya Rasulullah! Tulislah untukku!” Jawab Rasul, “Tulislah oleh kamu sekalian untuknya!”

Tidak ada riwayat yang lebih sahih tentang perintah menulis hadits selain hadits ini. Karena Nabi Muhammad SAW memerintahkannya dengan tegas.

 

Kegiatan bersih-bersih Masjid Baitul Aziz di Dusun Sidorejo Tambakrejo

Mahasiswa Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah (UIN SATU) yang sedang KKN di Desa Tambakrejo, khususnya Divisi Sosial Budaya dan Agama menggelar aksi membersihkan Masjid Baitul Aziz, Wonotirto, Blitar, Sabtu 30 Januari 2023.

Kegiatan aksi ini bertujuan untuk meningkatkan kebersihan terutama di tempat beribadah. Selain mendapatkan ridho dari Allah SWT, kami juga mengetahui bahwa Kebersihan itu sebagian dari Iman. Tidak hanya itu, dengan kondisi masjid yang bersih dan rapi maka jamaah akan senang dan tenang dalam melaksanakan ibadah.

Kami memulai membersihkan Masjid Baitul Aziz pada jam 09.00 WIB. Dengan demikian warga yang hendak beribadah, tidak terganggu atas kegiatan bersih-bersih yang kami lakukan. Kegiatan bersih-bersih yang dilakukan adalah menyapu serambi dan ruang utama masjid, mengepel lantai, membersihkan tempat wudhu hingga merapikan Al-Qur’an, mukena dan juga sarung. Selain bertujuan untuk menjaga kebersihan tempat ibadah, kegiatan ini juga ditujukan agar mahasiswa dapat melakukan pengabdian kepada masyarakat walaupun tidak melakukan atau menyumbangkan hal hal yang besar. Dalam melaksanakan kegiatan aksi bersih masjid tersebut kami dibantu devisi lainnya untuk membersihkan masjid dengan keikhlasan dan penuh semangat.

Kegiatan ini juga bentuk dari rasa kepedulian kita kepada rumah ibadah, sebagai tempat suci dan menambah pengetahuan kita akan pentingnya menjaga kebersihan. Kami berharap dengan adanya kegiatan bersih-bersih Masjid, banyak masyarakat lingkungan sekitar tempat ibadah tergerak untuk melestarikan dan menjaga kondisi Masjid/Mushola agar tetap bersih. Kegiatan ini juga diakhiri dengan duduk beristirahat kemudian foto bersama.

 

 

Jumat, 25 November 2022

Apa sih itu santri?

          

    Berbicara tentang santri pasti yang terlintas adalah kegiatan mengaji, muroja’ah, setoran hafalan, sholat malam dan sederet kegiatan lain yang berkaitan dengan ritualitas ibadah. Salah satu contohnya yaitu membaca kitab kuning yang telah menjadi rutinitas kami setiap hari, lelah dan bosan itu pasti telah kami alami, tetapi hal itu tidak pernah mengalahkan semangat kami dalam menuntut ilmu. Dan inilah yang dijumpai ketika datang dan masuk pesantren manapun yang ada di nusantara ini. Tidak mudah untuk menjadi santri, karena santri itu pilihan. Disaat teman kami menikmati kebebasan diluar, kami justru digembleng untuk menjadi yang lebih baik. Disinilah awal langkah kami untuk menuju kebaikan, ditempat sederhana yang mengajarkan banyak makna, di Pesantren Subulussalam inilah kita menimba ilmu dan berbagi ilmu.

    Banyaknya kegiatan santri tidak lain adalah bagian terkecil dari amanah dan tujuan besar pesantren adalah yaitu mendidik dan membentuk santri untuk disiplin dan bermanfaat. Bermanfaat tidak untuk dirinya sendiri tetapi juga untuk semua orang. "خير النَاس أنفعهم للنَاس" menjadi landasan bahwa santri harus memiliki semangat menebar manfaat sekecil apapun itu dan bagi siapapun. Santri dididik untuk disiplin dalam mengatur kebutuhan dan keperluan secara mandiri, mereka dididik bertanggung jawab atas waktunya yang digunakan. Seperti yang pernah dikatakan Bunda Salamah sebelumnya dalam pelajaran mahfudzot yakni "الوقت أثمن من الذّهب" yang artinya waktu itu lebih berharga daripada emas, yang intinya sebagai santri harus bisa memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya karena waktu yang telah berlalu tidak bisa terulang kembali.

    Seiring dengan berjalannya waktu santri bukan hanya bisa mengaji saja, tetapi santri juga bisa berkreasi disaat padatnya kegiatan di pesantren. Dengan adanya santri yang cerdas dan berakhlakul karimah pasti Indonesia akan menjadi lebih baik. Meski bisa menjadi apa saja santri tidaklah melupakan tugas utamanya yaitu saling menjaga martabat kemanusiaan. Karena disini santri datang dari berbagai dengan karakter dan kebiasaan yang berbeda-beda dengan latar belakang sosial yang bermacam-macam, mereka berkumpul dalam satu lingkungan baru yaitu Pesantren.

    Kyai sebagai orang tua sekaligus akan mengarahkan dan mengajak santri untuk mencintai, menghargai dan menjunjung tinggi nilai-nilai ukhuwah wathaniyah, ukhuwah basariyah dan ukhuwah islamiyah. Jadi memang sebuah kebanggan dan kenikmatan menjadi santri. Urusan dunia bahkan urusan akhirat bisa diperoleh secara bersama dan seimbang. Terimakasih abah, bunda, asatidz dan ustadzah yang telah membimbing kami untuk menjadi sosok yang lebih baik.

Nasakh Mansukh dan Unsur-unsur Hadits

Nasakh Mansukh Nasakh Mansukh a.        Pengertian Nasakh Mansukh             Nasikh merupakan isim fa’il (kata benda yang berkedudukan ...