Berbicara tentang santri pasti yang terlintas adalah kegiatan mengaji, muroja’ah, setoran hafalan, sholat malam dan sederet kegiatan lain yang berkaitan dengan ritualitas ibadah. Salah satu contohnya yaitu membaca kitab kuning yang telah menjadi rutinitas kami setiap hari, lelah dan bosan itu pasti telah kami alami, tetapi hal itu tidak pernah mengalahkan semangat kami dalam menuntut ilmu. Dan inilah yang dijumpai ketika datang dan masuk pesantren manapun yang ada di nusantara ini. Tidak mudah untuk menjadi santri, karena santri itu pilihan. Disaat teman kami menikmati kebebasan diluar, kami justru digembleng untuk menjadi yang lebih baik. Disinilah awal langkah kami untuk menuju kebaikan, ditempat sederhana yang mengajarkan banyak makna, di Pesantren Subulussalam inilah kita menimba ilmu dan berbagi ilmu.
Banyaknya kegiatan santri tidak lain adalah bagian terkecil dari amanah dan tujuan besar pesantren adalah yaitu mendidik dan membentuk santri untuk disiplin dan bermanfaat. Bermanfaat tidak untuk dirinya sendiri tetapi juga untuk semua orang. "خير النَاس أنفعهم للنَاس" menjadi landasan bahwa santri harus memiliki semangat menebar manfaat sekecil apapun itu dan bagi siapapun. Santri dididik untuk disiplin dalam mengatur kebutuhan dan keperluan secara mandiri, mereka dididik bertanggung jawab atas waktunya yang digunakan. Seperti yang pernah dikatakan Bunda Salamah sebelumnya dalam pelajaran mahfudzot yakni "الوقت أثمن من الذّهب" yang artinya waktu itu lebih berharga daripada emas, yang intinya sebagai santri harus bisa memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya karena waktu yang telah berlalu tidak bisa terulang kembali.
Seiring dengan berjalannya waktu santri bukan hanya bisa mengaji saja, tetapi santri juga bisa berkreasi disaat padatnya kegiatan di pesantren. Dengan adanya santri yang cerdas dan berakhlakul karimah pasti Indonesia akan menjadi lebih baik. Meski bisa menjadi apa saja santri tidaklah melupakan tugas utamanya yaitu saling menjaga martabat kemanusiaan. Karena disini santri datang dari berbagai dengan karakter dan kebiasaan yang berbeda-beda dengan latar belakang sosial yang bermacam-macam, mereka berkumpul dalam satu lingkungan baru yaitu Pesantren.
Kyai sebagai orang tua sekaligus akan mengarahkan dan mengajak
santri untuk mencintai, menghargai dan menjunjung tinggi nilai-nilai ukhuwah
wathaniyah, ukhuwah basariyah dan ukhuwah islamiyah. Jadi memang sebuah
kebanggan dan kenikmatan menjadi santri. Urusan dunia bahkan urusan akhirat
bisa diperoleh secara bersama dan seimbang. Terimakasih abah, bunda, asatidz
dan ustadzah yang telah membimbing kami untuk menjadi sosok yang lebih baik.
