Jumat, 17 Maret 2023

LARANGAN MENULIS HADITS PADA ZAMAN RASULULLAH SAW

 

Hadits, sumber ajaran Islam kedua setelah Al-Qur’an, mengalami proses perkembangan. Penyebaran Hadits melibatkan beberapa tahap. Periode pertama adalah masa wahyu dan pembentukan hukum serta landasannya. Pada masa ini, Nabi Muhammad hidup di tengah-tengah masyarakat.

Ketika itu, Nabi Muhammad meminta para sahabatnya untuk menuliskan setiap wahyu yang turun. Pada saat yang sama, ia melarang penulisan hadits.

عن أبي سعيد الخدري أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال لا تكتبوا عني ومن كتب عني غير القرآن فليمحه

Diceritakan dari Abu Sa’id al-Khudri bahwa Rasulullah bersabda “Jangan kalian menulis (selain Al-Qur’an) dariku. Barang siapa yang menulis dariku selain Al-Qur’an hendaknya ia menghapusnya” (HR Muslim).

Di sini kita akan melihat ada dua argumentasi ulama tentang dilarangnya menulis hadits pada masa Rasulullah SAW, yaitu:

Pertama, menurut sebagian ulama pada mulanya ditetapkan larangan menulis hadits. Hal ini dikarenakan khawatir tercampurnya penulisan Al-Qur’an dan hadits. Hingga ketika jumlah umat Islam bertambah banyak serta umat islam telah mengetahui perbedaan di antara Al-Qur’an dan hadits, larangan menulis hadits pun digugurkan dan dihapuskan.

Kedua, menurut sebagian ulama, larangan penulisan hadits dalam kisah Abu Sa’id al-Khudri adalah larangan penulisan hadits pada halaman yang sama dengan Al-Quran. Al-Hafidz as-Sakhawi mengatakan: “Larangan penulisan hadits maksudnya larangan menulis hadits dan Al-Qur’an pada halaman yang sama, terkadang para sahabat menulis ayat-ayat Al-Qur’an secara bersamaan dengan menulis hadits. Kemudian Rasulullah SAW melarang karena takut tercampur antara tulisan Al-Qur’an dan Hadits”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Nasakh Mansukh dan Unsur-unsur Hadits

Nasakh Mansukh Nasakh Mansukh a.        Pengertian Nasakh Mansukh             Nasikh merupakan isim fa’il (kata benda yang berkedudukan ...