Pendidikan merupakan kegiatan sadar yang memiliki tujuan. Proses
pendidikan dilakukan dengan sadar
dengan berdasarkan tujuan yang jelas. Dalam istilah bahasa Indonesia, kata pendidikan
hampir setara dengan
pengajaran yang menunjukkan
proses transformasi baik ilmu maupun nilai. Pendidikan dimaknai sebagai
upaya untuk menyampaikan informasi sekaligus menanamkan nilai-nilai dalam diri peserta
didik sehingga setelah proses tersebut dilakukan diperoleh perubahan sikap
positif yang diharapkan. Adapun dalam perspektif Al-Qur’an, tidak terdapat dualitas
yang memisahkan pendidikan dengan pengajaran.
Hanya saja di dalam Al-Qur’an terdapat
beberapa istilah yang
digunakan untuk menunjukkan
terminologi pendidikan dan pengajaran, yaitu tarbiyah, ta’lim, ta’dib dan
tazkiyah.
Asbabun Nuzul ayat-ayat tarbawi (Pendidikan) terbagi menjadi empat kelompok, yaitu:
- Spirit pendidikan dalam perspektif Al-Qur’an, yaitu Surat al-Mujadalah (58); 11, Surat al-Zumar (39); 9, dan Surat al-Taubah (9); 122.
- Pendidik dalam Al-Qur’an, Surat Ali Imran (3); 79.
- Peserta didik, Surat al-Hujurat (49); 1 dan al-Hujurat (49); 2.
- Materi pendidikan Surat al-Nahl (16); 1 dan al-Nur (24); 62.
Pertama, tentang spirit pendidikan dari sudut pandang Al-Qur’an, ayat-ayat
Al-Qur’an yang menjelaskan tentang keutamaan ilmu. Ilmu memiliki arti penting bagi umat Islam. Orang yang berilmu tidaklah sama dengan orang-orang
yang tidak berilmu. Dalam Surat al-Mujadalah (58); 11, secara tegas Allah menjelaskan
bahwa orang-orang yang berilmu akan diangkat derajatnya melebihi mereka
yang tak berilmu.
Ilmu di sini bersifat mutlak. Artinya tidak sebatas ilmu agama semata,
akan tetapi dalam semua disiplin ilmu, baik yang bernafaskan
agama maupun ilmu-ilmu duniawi. Sedangkan
Surat al-Zumar (39); 9, menjelaskan
tentang perbedaan orang yang berilmu dan yang tidak berilmu. Seseorang
yang berilmu dan beramal dengan ilmunya tentu tidaklah sama dengan mereka yang beramal tanpa ilmu. Mereka
yang beramal dengan ilmu memiliki
nilai lebih bila
dibandingkan dengan mereka
yang tidak berilmu. Untuk Surat al-Taubah (9); 122, berbicara
tentang pentingnya menuntut ilmu
meski dalam keadaan
genting. Ayat ini secara tegas
menerangkan bahwa tidak selayaknya semua umat Islam pergi ke medan perang.
Satu kondisi rawan yang
menuntut umat Islam untuk turun ke medan jihad.
Kedua, tentang pendidik dari sudut pandang al-Qur’an, Surat Ali
Imran (3); 79 menyatakan bahwa tidak pantas bagi
seorang yang telah dikarunia
al-kitab dan al-hikmah
berkata kepada manusia
yang lain, “Hendaklah kalian menjadi penyembah-penyembahku bukan
penyembah Allah.”, namun hendaknya
mereka mengatakan,
“Hendaklah kalian menjadi orang-orang
rabbani disebabkan kalian
selalu mengajarkan al-kitab dan disebabkan kamu tetap
mempelajarinya.” Seharusnyanya
seorang pendidik tetap
berpegang pada nilai-nilai agama yang
membuat dirinya tunduk
patuh pada perintah Rab-nya.
Jangan sampai puncak
penguasaan terhadap
pengetahuan menyebabkan dirinya
lupa daratan dan
lebih menganggap dirinya sebagai
yang lebih dibanding
yang lain.
Ketiga, tentang peserta didik dari sudut pandang Al-Qur’an, Surat
al-Hujurat (49); 1-2.
Pada ayat 1, Allah memerintahkan
kepada orang-orang yang
beriman hendaknya mereka tidak
mendahului Allah dan
rasul-Nya. Jangan mendahului urusan yang Allah dan Rasul-Nya belum
melakukan hal tersebut. Pada ayat selanjutnya, Allah melarang orang-orang yang
beriman meninggikan suara melebihi
suara Rasulullah Saw. Hal
ini sangat erat kaitannya dengan
tata krama dan adat istiadat. Dua ayat di atas menuntut adanya
kesadaran bagi peserta
didik untuk tetap
menjaga etika dan sopan
santun kepada pendidiknya. Jangan
sampai kebebasan berpikir dan
berpendapat, menjadikan peserta
didik lupa akan batasannya sebagai seorang
murid.
Keempat, tentang materi pendidikan dari sudut pandang Al-Qur’an, Surat
al-Nahl (16); 1, menyatakan bahwa ketetapan
Allah telah pasti datangnya. Jadi janganlah mereka
meminta untuk terburu-buru. Allah Maha Suci lagi Maha Tinggi, jauh dari
apa yang mereka persekutukan.
Ayat ini secara tidak langsung menunjukkan tentang adanya orang-orang yang mempersekutukan Allah
Swt dengan sesembahan
selain-Nya. Mereka mengira bahwa Allah Swt sama dengan tuhan-tuhan yang selama ini
mereka sembah. Kemudian Allah Swt menentang
dengan firman-Nya, Maha Suci Allah dan Maha Tinggi, jauh dari apa yang mereka
persekutukan.

