Sabtu, 01 April 2023

Asbabun Nuzul ayat-ayat tarbawi (Pendidikan)

 


Pendidikan merupakan kegiatan sadar yang memiliki tujuan. Proses pendidikan dilakukan dengan   sadar dengan berdasarkan tujuan yang jelas. Dalam istilah bahasa Indonesia, kata pendidikan hampir   setara   dengan   pengajaran   yang   menunjukkan   proses transformasi baik ilmu maupun nilai. Pendidikan dimaknai sebagai upaya untuk menyampaikan informasi sekaligus menanamkan nilai-nilai dalam diri peserta didik sehingga setelah proses tersebut dilakukan diperoleh perubahan sikap positif yang diharapkan. Adapun dalam perspektif Al-Qur’an, tidak terdapat dualitas yang memisahkan pendidikan dengan pengajaran.  Hanya saja di dalam   Al-Qur’an   terdapat   beberapa   istilah   yang   digunakan   untuk menunjukkan terminologi pendidikan dan pengajaran, yaitu tarbiyah, ta’lim, ta’dib dan tazkiyah.

Asbabun Nuzul ayat-ayat tarbawi (Pendidikan) terbagi menjadi empat kelompok, yaitu:

  • Spirit pendidikan dalam perspektif Al-Qur’an, yaitu Surat al-Mujadalah (58); 11, Surat al-Zumar (39); 9, dan Surat al-Taubah (9); 122. 
  • Pendidik dalam Al-Qur’an, Surat Ali Imran (3); 79.
  • Peserta didik, Surat al-Hujurat (49); 1 dan al-Hujurat (49); 2.  
  • Materi pendidikan Surat al-Nahl (16); 1 dan al-Nur (24); 62.

Pertama, tentang spirit pendidikan dari sudut pandang Al-Qur’an, ayat-ayat Al-Qur’an yang menjelaskan tentang keutamaan ilmu.  Ilmu memiliki arti penting bagi umat Islam.  Orang yang berilmu tidaklah sama dengan orang-orang yang tidak berilmu. Dalam Surat al-Mujadalah (58); 11, secara tegas Allah menjelaskan bahwa orang-orang yang berilmu akan diangkat derajatnya melebihi  mereka  yang  tak  berilmu.  Ilmu di sini bersifat mutlak. Artinya tidak sebatas ilmu agama semata, akan tetapi dalam semua disiplin ilmu, baik yang  bernafaskan  agama  maupun ilmu-ilmu duniawi. Sedangkan Surat al-Zumar (39); 9, menjelaskan  tentang perbedaan orang yang berilmu dan yang tidak berilmu. Seseorang yang berilmu dan beramal dengan ilmunya tentu tidaklah sama  dengan mereka yang beramal tanpa ilmu. Mereka yang beramal dengan ilmu memiliki  nilai  lebih  bila  dibandingkan  dengan  mereka  yang  tidak berilmu. Untuk Surat   al-Taubah  (9); 122, berbicara   tentang pentingnya  menuntut  ilmu  meski  dalam  keadaan  genting.  Ayat ini secara tegas menerangkan bahwa tidak selayaknya semua umat Islam pergi ke medan  perang.  Satu kondisi  rawan  yang  menuntut umat Islam untuk turun ke medan jihad.

Kedua, tentang pendidik dari sudut pandang al-Qur’an, Surat Ali Imran (3); 79 menyatakan  bahwa  tidak  pantas  bagi  seorang  yang telah  dikarunia  al-kitab dan  al-hikmah  berkata  kepada  manusia  yang lain, “Hendaklah kalian menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah.”,  namun  hendaknya  mereka  mengatakan, “Hendaklah  kalian menjadi  orang-orang  rabbani  disebabkan  kalian  selalu  mengajarkan  al-kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.” Seharusnyanya   seorang   pendidik   tetap   berpegang   pada   nilai-nilai agama   yang   membuat  dirinya   tunduk   patuh   pada perintah  Rab-nya.  Jangan  sampai  puncak  penguasaan  terhadap pengetahuan    menyebabkan    dirinya    lupa    daratan    dan    lebih menganggap   dirinya   sebagai   yang   lebih   dibanding   yang   lain.

Ketiga, tentang peserta didik dari sudut pandang Al-Qur’an, Surat al-Hujurat  (49);  1-2.  Pada ayat 1,  Allah  memerintahkan  kepada  orang-orang yang  beriman hendaknya  mereka  tidak  mendahului  Allah dan  rasul-Nya. Jangan mendahului urusan yang Allah dan Rasul-Nya belum melakukan hal tersebut. Pada ayat selanjutnya, Allah melarang orang-orang yang beriman meninggikan  suara  melebihi  suara  Rasulullah Saw. Hal  ini  sangat erat kaitannya  dengan  tata krama  dan  adat istiadat. Dua ayat di atas menuntut  adanya  kesadaran  bagi  peserta  didik  untuk  tetap  menjaga etika   dan   sopan   santun   kepada   pendidiknya.   Jangan   sampai kebebasan  berpikir  dan  berpendapat,  menjadikan  peserta  didik  lupa akan batasannya sebagai  seorang  murid.

Keempat, tentang materi pendidikan dari sudut pandang Al-Qur’an, Surat al-Nahl (16); 1, menyatakan  bahwa  ketetapan  Allah telah   pasti   datangnya. Jadi janganlah   mereka   meminta   untuk terburu-buru.  Allah Maha Suci lagi Maha Tinggi, jauh  dari  apa  yang mereka  persekutukan.  Ayat ini secara tidak langsung menunjukkan tentang adanya orang-orang yang   mempersekutukan   Allah   Swt   dengan sesembahan selain-Nya. Mereka mengira bahwa Allah Swt sama dengan tuhan-tuhan yang selama ini mereka sembah.  Kemudian Allah Swt menentang dengan firman-Nya, Maha Suci Allah dan Maha Tinggi, jauh dari apa yang mereka persekutukan.

ASBABUN NUZUL


Pengertian Asbabun Nuzul

Kata أَسباب “asbaab” adalah bentuk jamak dari kata سَبَبٌ “sabab”, artinya segala sesuatu yang menjadi sarana penyampaian atau transmisi kepada orang lain. Sedangkan dalam bahasa kita secara singkat bisa diartikan sebagai sebab.

Sedangkan kata نُزُول “nuzuul” merupakan bentuk Mashdar (kata benda bentuk kata kerja) dari kata kerja نزَلَ, “nazala”. Kata نُزُول adalah bentuk jamak dari نَزْل “nazlun”. yang dalam bahasa kita bisa diartikan sebagai turun.

Asbabun Nuzul secara harfiah berarti sebab diturunkannya ayat-ayat Al-Qur’an. Allah menurunkan Al-Qur’an secara bertahap selama kurang lebih 23 tahun. Al-Qur’an diturunkan untuk memperbaiki iman, ibadah, akhlak dan hubungan manusia yang menyimpang dari kebenaran. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa terjadinya penyimpangan dan kerusakan pada tatanan kehidupan manusia merupakan sebab diturunkannya Al-Qur’an. Definisi ini mengandung pengertian bahwa sebab munculnya ayat kadang berupa peristiwa dan kadang berupa pertanyaan. Sebuah ayat atau beberapa ayat datang untuk menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan peristiwa tertentu atau memberikan jawaban atas pertanyaan tertentu.

Proses turunnya Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW terdapat tiga tahap, yaitu:

  • Al-Qur'an diturunkan Allah ke Lauh al-Mahfuzh, tempat yang menjadi catatan segala ketetapan dan kepastian Allah.
  • Al-Quran diturunkan dari Lauh al-Mahfuzh ke Bait Al-Izzah (tempat yang ada di langit dunia).
  • Al-Qur'an diturunkan secara bertahap dari Bait Al-Izzah ke hati Nabi Muhammad SAW melalui malaikat Jibril sesuai kebutuhan. 

Macam-macam Asbabun nuzul

Sebab turunnya ayat bisa dilihat dari berbagai sudut pandang. Jika dilihat dari bentuknya, sebab asbabun nuzul dapat dibagi menjadi dua bentuk, yaitu berupa peristiwa dan berupa pertanyaan.

Dari segi jumlah sebab dan ayat yang turun, sebab al-nuzul dapat dibagi menjadi dua yaitu:

Ta’addud al-asbab wa al-nazil wahid (beberapa alasan yang hanya melatarbelakangi turunnya satu ayat atau wahyu). Ada kalanya wahyu turun untuk menanggapi beberapa peristiwa atau sebab, contohnya turunnya Q.S. Al-Ikhlas ayat 1-4. Surat tersebut diturunkan untuk menanggapi orang-orang musyrik Makkah sebelum Rasulullah SAW melakukan hijrah. Ayat tersebut juga diturunkan kepada kaum ahli kitab yang ditemui di Madinah setelah hijrahnya Rasulullah SAW.

  Ta’addud al-nazil wa al-sahab wahid (satu alasan yang mendasari turunnya beberapa ayat). Contohnya, Q. S. Ad-dukhan ayat 10, 15, dan 16, asbabun nuzul dari beberapa ayat tersebut terjadi ketika kaum Quraisy tidak menaati Rasulullah SAW. Ia berdoa agar mereka merasakan kelaparan seperti yang pernah terjadi pada zaman Nabi Yusuf. Pada akhirnya, kaum Quraisy menderita kekurangan hingga mereka makan tulang. Kaum tersebut pun mendatangi Rasulullah SAW untuk meminta pertolongan. Maka Rasulullah SAW berdoa agar diturunkan hujan. Hujan turun setelah Rasulullah SAW berdoa, tetapi kaum Quraisy kembali sesat dan durhaka. Kemudian, turunlah riwayat yang menyatakan bahwa siksaan akan turun ketika Perang Badar.

Manfaat Mengetahui Asbabun Nuzul

Pengetahuan tentang Asbabun nuzul bukan hanya suatu pengamatan sejarah yang melatarbelakangi turunnya ayat-ayat Al-Qur’an, tetapi tujuan yang paling penting adalah untuk memahami Al-Qur’an dan menerima petunjuk dari Al-Qur’an. Hal ini tentu tidak sejalan dengan pendapat sebagian orang yang mengatakan bahwa tidak ada gunanya mengetahui Asbabun nuzul karena tidak lebih dari sejarah masa lalu. Padahal mempelajari Asbabun nuzul memiliki beberapa manfaat, antara lain: 

  • Membantu untuk mengetahui rahasia dan tujuan Allah dibalik hukum yang ditentukan oleh Al-Qur’an.
  • Membantu membuat ayat-ayat Al-Qur'an lebih mudah dipahami dan terhindar dari kesulitan.
  • Menolak argumen bahwa ayat tersebut aslinya mengandung hashr (pembatasan).
  • Menghindari salah tafsir dari ayat yang muncul setelah ayat Mutakhashish.
  • Pengertian hukum/spesialisasi ayat menurut penyusunan umum. Ini bagi yang mengikuti kaidah khusus al-ibrah bi khusus, al-sabab laa bi umum al-lafdzi.   
  • Memperjelas kepada siapa ayat tersebut ditujukan untuk menghindari spekulasi.
  • Mempermudah hafalan Al-Qur’an dan menegaskan keberadaan wahyu dalam benak pendengar yang mengetahui sebab turunnya wahyu.

Nasakh Mansukh dan Unsur-unsur Hadits

Nasakh Mansukh Nasakh Mansukh a.        Pengertian Nasakh Mansukh             Nasikh merupakan isim fa’il (kata benda yang berkedudukan ...